Skip to main content

Featured

Easy Homemade Wonton Soup

This äuthentic homemäde wonton soup recipe is eäsy änd fun to mäke! Eäch heärty bowl is päcked with plump pork dumplings, fresh vegetäbles, änd jumbo shrimp.

If you äre looking for the ULTIMäTE äsiän comfort food, this wonton soup recipe is where it’s ät!

Ingredients

Wontons-
1 pound ground pork2 teäspoons ginger, freshly gräted or finely minced2 teäspoons sugär2 teäspoons soy säuce2 teäspoons sesäme oil1/3 cup green onions, thinly sliced1 teäspoon kosher sält1/4 teäspoon bläck pepper, freshly ground32 smäll shrimp, cooked or räw, peeled (Optionäl)32 wonton wräppers, squäre, Näsoyä
Soup-
2 teäspoons sesäme oil2 cloves gärlic, minced1 teäspoon ginger, freshly gräted or finely minced7 cups chicken broth4 ounces brown mushrooms, sliced, äbout 1 ½ cups1 cärrot, thinly sliced on ä diägonäl3 leäves bäby bok choy, sepäräted1 pound lärge shrimp, peeled änd deveined1/3 cup green onions, thinly sliced
Instructions

Wontons-

In ä medium-sized bowl combine pork, 2 teäspoons ginger, sugär, soy säuce, sesäm…

Sepucuk kenangan di sudut bangsal


Menjadi seorang dokter berarti berdiri diantara kehidupan dan kematian. Tak jarang, sebelum benar benar mendapat gelar dokterpun, seorang dokter muda – lebih sering – disebut koas- harus menghadapi itu. Aku dikenal sering dijauhkan dari kasus kasus gawat atau dekat dengan kematian. Sebaliknya, Aku sangat berbahaya saat jaga malam di kamar bayi karena akan banyak sekali bayi yang lahir malam itu.

Sifat “pemanggil kehidupan” dan “penolak kematian” ini membuatku tak jarang mendapat kasus henti jantung atau henti nafas. Dan karena itu, aku jadi susah melupakan kematian pasien yang kutangani. Setiap teringat, aku selalu menatap kedua tangan dengan hampa. Aku tak bisa berbuat lebih waktu itu.

Aku masih ingat saat seorang ibu meningeal di waktu subuh. Kejadiannya sudah cukup lama, sudah setahun lalu. Saat itu aku sedang jaga malam ruangan. Sampai malam hari, takada hal yang membutuhkan perhatian lebih dariku. Tapi malam sunyi itu bagai laut tenang sebelum badai.

Ketika subuh, seorang perawat memanggilku. Pasti ada sesuatu yang gawat. Ternyata benar, ada seseorang pasien di ruang perawatan khusus yang membutuhkan pijat jantung. Aku langsung menuju ke sana, tak perlu percaya atau tidak. Aku hanya perlu menghadapinya dan menyelesaikan tugas.

Di ruangan tersebut, perawat shif malam sudah lebih dulu memberi pertolongan pijat jantung. Ketika aku datang, aku berganti posisi dengan perawat dan mulai memijat jantung pasien. yang kudengar, ibu tersebut baru selesai operasi melahirkan. Ia mengalami pre-eklampsia, sebuah penyakit berupa tekanan darah tinggi saat kehamilan. Lalu karena semakin gawat, diputuskan untuk melahirkan dengan operasi.

Operasi berjalan dengan baik, bayiya selamat. Namun beberapa jam setelah itu, kondisi sang ibu emburuk. Ditemani dengan seorang dokter jaga yang juga senior saya di unniversitas, kami bergantian melakukan pijat jantung. Aku berupaya sekuat tenaga dengan memperhatikan prinsip prinsip resusitasi – menekan dengan kuat dan cepat, tetapi tekanan tanganku tak banyak membantu.

Sedikit lagi, sedikit lagi. Aku tak boleh menyerah. aku tak boleh sampai kelelahan. Berapa lama lagi aku akan bertahan ?

Untuk menjaga stamina, kami mulai berganti posisi berarti aku harus memompa kantong napas dengan tangan dan memastikannya terhirup dengan baik. Itu sebagai rangsang terhadap paru paru agar bisa kembali bernapas normal.

Lima belas menit berlalu. semakin lama pijat jantung dan bantuan napas diperlukan, maka semakin rendah harapan hidup seseorang pasien. Rasanya saat ini kami tak perlu banyak berharap. Tapi dokter atau perawat manakah yang tak ingin pasiennya selamat ?

Setengah jam berlalu. Tak bisa. Usaha kami tak cukup untuk mengembalikan nyawa sang ibu. Tubuhnya sudah tak bereaksi terhadap upaya kami. Ujung ujung badannya dingin. Peluh yang menetes dari pelipis dan dahiku terasa seperti dusta. Ia telah pergi.

Tetap berada di ruangan yang sama sambil menatap kepergian seorang terasa pahit bagiku. Gambaran itu, setiap aku mengenangnya, masih terasa sangat jelas. Perasaan ….. yang membuatku tak nyaman.

***


Baca juga kumpulan Kisah kisah baper

Comments

Popular Posts